BRIDA TUNTASKAN PENDAMPINGAN INOVASI 2026, KOTA BIMA KIRIM 291 INOVASI KE KEMENDAGRI
KOTA BIMA — Komitmen Pemerintah Kota Bima dalam membangun budaya inovasi di
lingkungan pemerintahan menunjukkan perkembangan yang semakin positif. Setelah
melalui pendampingan intensif selama hampir tiga bulan, sejak 3 Juni hingga 31
Agustus 2026, sebanyak 291 inovasi daerah berhasil disubmit ke Kementerian
Dalam Negeri (Kemendagri) untuk mengikuti proses penilaian inovasi daerah tahun
2026.
Jumlah tersebut
meningkat 57 inovasi atau 24,4 persen dibandingkan tahun 2025 yang mencatat 234
inovasi. Pertumbuhan ini tidak hanya menunjukkan bertambahnya jumlah inovasi,
tetapi juga memperlihatkan semakin luasnya keterlibatan perangkat daerah dan
unit pelayanan publik dalam membangun budaya inovasi.
Pendampingan
dilaksanakan oleh Tim Pendamping Inovasi Bidang Pengembangan dan Pemanfaatan
Inovasi dan Teknologi BRIDA Kota Bima dengan menyasar seluruh OPD, sekolah,
RSUD, Labkesda, puskesmas dan kelurahan. Pendampingan dilakukan berdasarkan
jadwal yang telah disusun tim, mulai dari identifikasi inovasi, penyusunan
profil, pemenuhan dokumen pendukung, penguatan eviden hingga proses submit ke
sistem penilaian Kemendagri.
Perangkat
Daerah Mulai Menunjukkan Perkembangan Signifikan
Salah satu
perkembangan yang patut mendapat perhatian dalam capaian tahun 2026 adalah
semakin aktifnya perangkat daerah dalam melahirkan dan mendaftarkan inovasi.
Jika pada tahun
sebelumnya inovasi Kota Bima masih sangat terkonsentrasi pada sektor
pendidikan, tahun ini sebarannya mulai lebih merata. Dari total 291 inovasi,
terdapat 61 inovasi yang berasal dari OPD, sementara 218 inovasi berasal dari
sekolah dan 12 inovasi lainnya berasal dari puskesmas, Labkesda dan kelurahan.
Angka tersebut
menunjukkan bahwa inovasi di lingkungan Pemerintah Kota Bima mulai bergerak
menjadi bagian dari budaya kerja perangkat daerah. Hal ini sejalan dengan
kebijakan Pemerintah Kota Bima yang mendorong setiap OPD untuk mengembangkan
minimal dua inovasi setiap tahun. (Bima Kominfo)
Perkembangan
tersebut menjadi semakin penting jika melihat kondisi tahun sebelumnya. Pada
2025, dari 234 inovasi yang tercatat, 215 inovasi atau 91,9 persen berasal dari
urusan pendidikan, sedangkan inovasi pada sejumlah urusan pelayanan dasar
lainnya masih sangat terbatas. Tahun 2026 menunjukkan perubahan komposisi yang
lebih beragam.
Dengan
demikian, capaian tahun ini bukan semata-mata tentang bertambahnya jumlah
inovasi, tetapi juga tentang semakin banyak perangkat daerah yang mulai
mengambil peran dalam menciptakan solusi dan melakukan pembaruan dalam
penyelenggaraan pemerintahan serta pelayanan publik.
Seluruh Urusan
Wajib Pelayanan Dasar Terisi Inovasi
Perubahan
tersebut juga terlihat jelas dari sebaran inovasi pada urusan pemerintahan
wajib pelayanan dasar.
Pada tahun
2026, seluruh enam urusan pelayanan dasar telah memiliki inovasi. Urusan
pendidikan tercatat sebanyak 211 inovasi atau 72,5 persen, kesehatan sebanyak
32 inovasi atau 11 persen, sosial sebanyak 14 inovasi atau 4,8 persen,
ketenteraman, ketertiban umum dan perlindungan masyarakat sebanyak 6 inovasi
atau 2,1 persen, pekerjaan umum dan penataan ruang sebanyak 4 inovasi atau 1,4
persen, serta perumahan rakyat dan kawasan permukiman sebanyak 2 inovasi atau
0,7 persen.
Perubahan ini
menunjukkan bahwa inovasi Kota Bima mulai menyebar ke berbagai sektor pelayanan
dasar. Bahkan, beberapa urusan yang sebelumnya belum memiliki inovasi kini
telah mulai terisi.
Bagi BRIDA,
kondisi tersebut menjadi perkembangan penting karena inovasi diharapkan tidak
hanya tumbuh dari sektor tertentu, tetapi hadir di seluruh lini pemerintahan
sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan pelayanan masing-masing.
Kualitas
Inovasi Ikut Diperkuat
Pendampingan
yang dilakukan BRIDA juga tidak berhenti pada upaya mengejar jumlah inovasi.
Tim pendamping secara intensif membantu para inovator melengkapi dokumen dan
eviden yang menjadi bagian penting dalam penilaian Indeks Inovasi Daerah.
Hasilnya, dari
291 inovasi yang tercatat, rata-rata indeks kematangan inovasi Kota Bima
mencapai 97,32 atau berada pada kategori Sangat Matang.
Sebanyak 125
inovasi atau 42,96 persen bahkan telah mencapai tingkat kematangan 100 atau
lebih. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar inovasi telah memiliki proses
implementasi yang cukup kuat dan mulai menunjukkan aspek manfaat, dampak serta
keberlanjutan.
Distribusi
kematangan tersebut terdiri dari 8 inovasi pada kategori belum matang, 61
inovasi mulai matang, 97 inovasi cukup matang, 89 inovasi matang, 28 inovasi
sangat matang dan 8 inovasi berada pada kategori sangat inovatif.
Capaian
tersebut memperlihatkan bahwa pendampingan diarahkan bukan sekadar membuat
inovasi terdaftar, tetapi juga mendorong inovator untuk mampu menunjukkan apa
masalah yang diselesaikan, bagaimana inovasi diterapkan, apa manfaatnya dan
seberapa besar dampaknya bagi masyarakat.
Kepala BRIDA:
Terima Kasih atas Dukungan Semua Pihak
Kepala BRIDA
Kota Bima, Arif Roesman Effendy, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak
yang telah mendukung proses pendampingan hingga seluruh inovasi berhasil
disubmit.
Ia secara
khusus menyampaikan terima kasih kepada Bapak Wali Kota dan Wakil Wali Kota
Bima serta Bapak Sekretaris Daerah yang terus memberikan motivasi, arahan dan
dukungan dalam mendorong penguatan inovasi daerah.
“Terima kasih
kepada Bapak Wali Kota dan Wakil Wali Kota, Bapak Sekda yang terus memberikan
motivasi dan arahan. Dukungan pimpinan menjadi bagian penting dalam membangun
budaya inovasi di Kota Bima,” ujarnya.
Arif juga
menyampaikan penghargaan kepada para inovator yang terus berkomitmen melahirkan
gagasan perubahan di lingkungan kerja masing-masing.
“Terima kasih
kepada para inovator yang terus berkomitmen melahirkan ide perubahan. Inovasi
membutuhkan komitmen, keberanian dan konsistensi untuk mengubah cara kerja
menjadi lebih baik,” katanya.
Ucapan terima
kasih juga disampaikan kepada seluruh pimpinan OPD, kepala puskesmas, kepala
Labkesda dan kepala sekolah yang terus mendorong para inovator di lingkungan
masing-masing sehingga inovasi yang dikembangkan dapat diselesaikan dan
disubmit.
“Ucapan terima
kasih juga kami sampaikan kepada pimpinan OPD, Kepala Puskesmas, Labkesda dan
Kepala Sekolah yang terus mendorong para inovatornya sehingga inovasinya bisa
tersubmit,” ungkapnya.
291 Inovasi
Selanjutnya Dinilai Kemendagri
Dengan
berakhirnya pendampingan pada 31 Agustus 2026, proses selanjutnya adalah
menunggu tahapan penilaian oleh Kementerian Dalam Negeri.
Sebanyak 291
inovasi yang telah dikirimkan akan dinilai tidak hanya dari sisi kuantitas,
tetapi juga dari aspek kualitas inovasi. Karena itu, capaian jumlah inovasi
yang berhasil disubmit bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan awal dari
proses pembuktian terhadap kualitas inovasi yang telah dikembangkan.
Aspek
kematangan, implementasi, kebaruan, manfaat, dampak dan keberlanjutan menjadi
hal yang penting untuk diperhatikan. Dengan kata lain, tantangan Kota Bima ke
depan bukan lagi sekadar bagaimana memperbanyak inovasi, tetapi bagaimana
memastikan inovasi yang telah dilahirkan benar-benar mampu menjawab persoalan
dan memberikan perubahan nyata.
“Setelah
seluruh inovasi berhasil kita submit, selanjutnya kita menunggu proses
penilaian dari Kemendagri. Yang dinilai bukan hanya kuantitas, tetapi juga
kualitas inovasi. Karena itu, kita berharap inovasi yang telah dikembangkan
benar-benar menunjukkan implementasi, manfaat dan dampak yang nyata bagi
masyarakat,” tegas Arif.
Capaian 291
inovasi atau meningkat 24,4 persen menjadi modal penting bagi Kota Bima untuk
terus memperkuat ekosistem inovasi. Lebih dari sekadar bertambahnya angka,
perkembangan tahun ini menunjukkan bahwa budaya inovasi mulai tumbuh lebih luas
di lingkungan perangkat daerah dan berbagai unit pelayanan publik.
Dari inovasi
yang semakin banyak, sebaran urusan yang semakin lengkap, hingga tingkat
kematangan yang mencapai kategori Sangat Matang, Kota Bima kini memasuki tahap
berikutnya: membuktikan bahwa inovasi yang dilahirkan bukan hanya banyak,
tetapi berkualitas, berdampak dan berkelanjutan.
Berinovasi,
berkolaborasi dan berdampak untuk mewujudkan Kota Bima yang semakin maju,
inovatif dan sejahtera.