Begini Penjelasan BRIN soal Fenomena Wereng Jagung yang Menyebar di Kota Bima

Kota Bima, BRIDA_

fenomena langka yang terjadi di KOta Bima, yakni munculnya wereng jagung yang menyebar ke lampu jalanan Kota hingga ke pemukiman warga telah membuat kuatir masyarakat, hasil konsultasi BRIDA KOta BIma dengan BRIN, wereng tersebut diduga Dalbulus Maidis, yakni wereng yang menggunakan tanaman jagung sebagai inangnya.

Salah seorang Peneliti BRIN yang tergabung dalam Kelompok Riset Teknologi Pengelolaan Hama dan Penyakit Tanaman Jagung dan Serealia Potensial Lainnya Pusat Riset Tanaman Pangan. Organisasi Riset Pertanian dan Pangan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Melalui makalan penelitian Dr. Suryani, SP, MP, menjelaskan,  Wereng jagung Dalbulus maidis merupakan hama invasif penting yang berasal dari Amerika dan telah menyebar luas di berbagai wilayah tropis dan subtropis. Hama ini berbahaya karena berperan sebagai vektor penyakit kompleks “corn stunt” yang menyebabkan tanaman kerdil, klorosis, hingga gagal panen. Hama ini memiliki peran strategis sebagai vektor penyakit kompleks “corn stunt” yang disebabkan oleh patogen seperti Spiroplasma kunkelii, maize bushy stunt phytoplasma, dan maize rayado fino virus. Kerusakan yang ditimbulkan tidak hanya berasal dari aktivitas makan berupa penghisapan cairan floem yang menyebabkan klorosis dan pertumbuhan terhambat, tetapi terutama dari transmisi patogen yang dapat mengakibatkan kehilangan hasil hingga lebih dari 50% pada kondisi endemic. Dengan siklus hidup yang relatif singkat dan kemampuan reproduksi tinggi, D. maidis mampu berkembang pesat pada kondisi lingkungan tropis dengan ketersediaan tanaman inang sepanjang tahun. Berdasarkan Keputusan Kepala Badan Karantina Indonesia Nomor 571 Tahun 2025 tentang Penetapan Jenis Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina (OPTK), media pembawa, serta media pembawa yang dilarang, D. maidis dikategorikan sebagai OPTK A2. Status ini menunjukkan bahwa organisme tersebut telah terdapat di wilayah Indonesia, namun penyebarannya masih terbatas. Keberadaan D. maidis sebelumnya dilaporkan di Provinsi Sulawesi Tengah, sebagaimana juga tercantum dalam penetapan daftar OPTK tahun 2020. Kondisi ini menunjukkan bahwa Indonesia berada pada fase awal invasi (early establishment), di mana deteksi, surveilans, dan intervensi dini menjadi sangat krusial. Faktor utama yang mendorong potensi penyebaran hama ini meliputi pola tanam jagung yang tidak serempak, mobilitas benih antar wilayah, perubahan iklim yang meningkatkan suhu rata-rata, serta penggunaan insektisida yang
tidak selektif sehingga menekan populasi musuh alami (CABI, 2022).
Perkembangan terkini menunjukkan adanya laporan serangan hama ini pada
tanaman jagung di Kota Bima yang menimbulkan kekhawatiran di kalangan
masyarakat. Mengingat status
D. maidis sebagai OPTK A2 dengan distribusi yang
sebelumnya terbatas di Sulawesi Tengah, langkah awal yang krusial adalah melakukan
identifikasi spesies secara akurat terhadap wereng yang menyerang di Kota Bima. Hal
ini bertujuan untuk memastikan bahwa spesies tersebut benar merupakan
Dalbulus
maidis
, sehingga tindakan pengendalian yang tepat dapat segera diterapkan.
Distribusi D. maidis di Indonesia yang masih terbatas, sehingga keterbatasan
informasi tersebut berdampak pada masih minimnya penelitian yang berfokus pada
pengembangan teknologi pengendalian
D. maidis di Indonesia. Namun demikian,
beberapa teknologi pengendalian yang dapat dilakukan untuk menekan perkembangan
populasi hama
D. maidis diantaranya:
1. Strategi kultur teknis seperti tanam serempak, rotasi tanaman dengan noninang, sanitasi lahan dapat menekan populasi awal dan sumber inokulum
penyakit. Penggunaan varietas tahan merupakan salah satu strategi kultur
teknis yang efektif, sehingga diperlukan evaluasi ketahanan varietas jagung
eksisting terhadap serangan hama ini sehingga nantinya varietas-varietas
tahan dapat direkomendasikan dikembangkan di wilayah endemic.
2. Pengendalian biologis juga berperan penting melalui pemanfaatan musuh
alami dan agen hayati, termasuk cendawan entomopatogen seperti
Beauveria bassiana dan Metarhizium anisopliae. Penelitian pemanfaatan
agens hayati tersebut di Indonesia belum ada spesifik langsung ke
D. maidis,
namun keefektifan agens hayati ini banyak dilaporkan dalam menekan
perkembangan populasi wereng. Keefektifan kedua spesies entomopatogen
ini terhadap
D. maidis telah dilaporkan oleh Maia et al. 2025 di Brazil.
Pengalaman pada tanaman padi juga membuktikan bahwa
Beauveria dan
Metarhizium dapat digunakan sebagai agen hayati penangulangan wereng
coklat,
Nilavarpata Lugens Saat ini telah di patenkan agen hayati. Peneliti
BRIN sudah mengidentifikasi
Metarhizium anisopliae dari isolate lokal,
yang mungkin juga efektif untuk pengendalian wereng jagung ini.
3. Melakukan pemantauan secara berkala dengan lakukan pengamatan setiap
1–2 minggu sekali sejak tanam hingga menjelang panen (terutama pada fase
vegetatif dan generatif awal). Populasi wereng per batang diamati pada 10–
20 tanaman secara diagonal atau acak sistematis di pertanaman jagung. Jika
ditemukan lebih dari 5 imago per tanaman segera lakukan penyemprotan
Insektisida.
4. Penggunaan insektisida kimiawi tetap dapat dilakukan, namun harus
bersifat selektif, berdasarkan ambang kendali, dan dilakukan secara
bijaksana untuk mencegah resistensi. Sebelum dilakukan penyemprotan
pestisida

5. Insektisida berbahan aktif imidacloprid dan Nitenpyram direkomendasikan
untuk pengendalian hama ini. Mengingat aktivitas wereng tinggi saat pagi
dan sore hari, maka aplikasi insektisida disarankan pada kedua waktu
tersebut. Selain itu, saat sore dan pagi hari suhu relatif rendah, kelembapan
tinggi, dan intensitas cahaya matahari tidak terlalu tinggi, sehingga dapat
meningkatkan efektivitas insektisida serta mengurangi kehilangan akibat
penguapan dan degradasi oleh sinar ultraviolet.
6. Penggunaan yellow sticky trap. Di beberapa negara,
D. maidis telah
menunjukkan kecenderungan resistensi terhadap kelompok insektisida
tertentu seperti piretroid dan neonicotinoid, sehingga pendekatan kimia
tidak dapat dijadikan strategi utama. Oleh karena itu, integrasi teknologi
monitoring seperti penggunaan perangkap kuning (yellow sticky trap),
sistem peringatan dini, serta penguatan surveilans berbasis identifikasi
molekuler menjadi komponen penting dalam pengelolaan hama ini.
7. Melakukan eradikasi dengan membuang dan menghancurkan tanaman
jagung yang terinfeksi
corn stunt untuk mencegah penularan yang lebih luas
lagi.
Secara keseluruhan, keberadaan
D. maidis di Indonesia harus dipandang
sebagai ancaman serius terhadap ketahanan produksi jagung nasional. Mengacu pada
kejadian serangan wereng coklat di tahun 1970 yang awalnya bukan hama utama,
namun beberapa tahun berselang sampai sekarang menjadi hama utama perusak
tanaman padi. Diperlukan langkah strategis yang meliputi penguatan sistem surveilans
nasional, integrasi data antara penelitian dan kebijakan karantina, pengembangan
teknologi pengendalian berbasis hayati, serta peningkatan kapasitas petani melalui
diseminasi teknologi PHT. Tanpa intervensi yang cepat dan terkoordinasi, hama ini
berpotensi berkembang menjadi hama utama (key pest) di Indonesia, sebagaimana yang
telah terjadi di kawasan Amerika Latin.
Kesimpulan dan Rekomendasi
Keberadaan Dalbulus maidis di Indonesia menunjukkan indikasi fase awal invasi yang berpotensi berkembang menjadi ancaman serius terhadap produksi jagung
nasional, terutama karena perannya sebagai vektor penyakit kompleks yang sulit

dikendalikan. Oleh karena itu, diperlukan langkah strategis yang cepat, terintegrasi, dan
berbasis ilmiah untuk mencegah eskalasi menjadi hama utama (key pest).
Sehubungan dengan hal tersebut, direkomendasikan:
1. Penguatan surveilans nasional berbasis molekuler untuk memastikan status
keberadaan, distribusi, dan tingkat penyebaran
D. maidis secara akurat sebagai dasar
pengambilan kebijakan.
2. Penetapan status resmi dan zonasi risiko melalui integrasi data lapang dan sistem
karantina, sehingga kebijakan pengendalian dan pembatasan lalu lintas bahan tanam
dapat dilakukan secara tepat sasaran.
3. Implementasi Pengendalian Hama Terpadu (PHT) berbasis kawasan, dengan
prioritas pada tindakan preventif seperti tanam serempak, rotasi tanaman, dan sanitasi
lahan untuk memutus siklus hidup hama dan menekan sumber inokulum penyakit.
4. Pengembangan dan pemanfaatan agens hayati, termasuk cendawan entomopatogen
sebagai alternatif pengendalian yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.
5. Pengendalian kimia secara selektif dan bijak, berbasis ambang kendali dan rotasi
bahan aktif, guna mencegah resistensi serta menjaga keberadaan musuh alami.
6. Penguatan sistem peringatan dini dan monitoring populasi, melalui penggunaan
perangkap dan pengamatan rutin sebagai dasar respon cepat di tingkat lapangan.
7. Peningkatan kapasitas petani dan penyuluh, melalui diseminasi teknologi dan
pelatihan PHT agar pengendalian dilakukan secara serempak dan efektif di tingkat
kawasan.
8. Integrasi riset dan kebijakan, khususnya dalam pengembangan varietas tahan,
pemetaan risiko sebaran, dan strategi pengelolaan berbasis lanskap (area-wide pest
management).
Dengan implementasi rekomendasi tersebut secara konsisten dan terkoordinasi,
diharapkan penyebaran
D. maidis dapat dikendalikan sejak dini, sehingga dampaknya
terhadap produksi jagung nasional dapat diminimalkan.(PPID-BRIDA)